Cokelat itu indah, menggambarkan perasaan dengan coklat itu sudah lebih dari cukup. Ternyata aku kurang bersyukur atas apa yang telah aku miliki. Di sekelilingku, aku dikelilingi oleh cokelat, apa yang aku lihat pun cokelat. Setiap waktu setiap detik cokelat mmengelilingiku. Aku menggambarkan perasaanku dengan cokelat. Setiap orang yang belum mengenalku selalu saja bertanya “mata kamu cokelat, aku suka”. Mendengarkan kalimat seperti itu, kadang aku malu, aku bosan dengan pertanyaan seperti itu. Tiap hari aku harus merasakan cokelat dan cokelat, bosan bosan!! Inilah aku tiap hari selalu cokelat dan cokelat. Apa yang mereka pikirkan dengan mata dan rambutku? Sudah cukup aku menggambarkan perawakanku dengan cokelat, memberi pun juga. Aku sangat berterima kasih mereka mau perhatian, dan aku bersyukur akan hal itu. Mereka menanyakan itu, terngiang masa itu. Angin lalu yang membawa ku akan ketertarikanmu. Jangan ungkit lagi masalah dahulu, aku pun juga tahu karena aku tahu tentangmu semampu aku melihat dan mendengar.
Cokelat memang warna, makanan, minuman bahkan sesuatu hal yang menjadi kesukaan tiap orang. Bagiku cokelat mampu memberi warna terhadap seseorang. Orang tersebut pasti akan melonjak senang apabila hari valentine ataupun ulang tahunnya mendapatkan sebatang cokelat. Hanya penggambaran ilusi belaka. Cokelat mampu memutarkan klise video masa lalu, dengan sephianya yang membuat seluruh emosi berhamburan keluar dari peraduannya.
Semua berasal dari cokelat, ia mempunyai cerita sendiri untuk mengingatkan majikannya di kala sepi. Mengingatkan seseorang yang dulu pernah tersakiti. Menelusur berbagai pertanyaan yang sebenarnya seorang pun tak mengerti. Membangunkan sisi lain dari ku untuk melihat keluar sana. Melihat kepalsuan imajinasi. Meraba kalbu yang terpendam sekian lamanya. Menjadi rahasia cokelat. Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get<Forrest Gump>.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar